Kamis, 21 Agustus 2014

Nurturing Plan



LAPORAN PRATIKUM BIOKONSERVASI
NURTURING PLAN



OLEH
NAMA                          : BAMBANG NURWANTO S.
NO. BP                          : 1110422019
KELOMPOK   : 3 A







JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014

SEEDLING POHON



                          
Gambar 1. Sebelum perawatan                                               Gambar 2. Sesudah perawatan

Klasifikasi Pternandra galeata RIDL.
Kingdom  : Plantae
Divisi                    : Magnoliophyta
Kelas                    : Magnoliopsida
Ordo                     : Melastomatales
Famili                   : Melastomataceae
Genus                   : Pternandra
Spesies                 : Pternandra galeata RIDL.




TAGGING POHON



       
Gambar 3. Sebelum                                                                 Gambar 4. Sesudah

Klasifikasi Eurya acuminata DC.
Kingdom  : Plantae
Divisi                    : Magnoliophyta
Kelas                    : Magnoliopsida
Ordo                     : Theales
Famili                   : Theaceae
Genus                   : Eurya
Spesies                 : Eurya acuminata DC.

Minggu, 17 Agustus 2014

Blog Annisa


Rabu, 01 Januari 2014

Bakteri Metanotrof sebagai Pereduksi Emisi Metan dan Pemfiksasi N2 (Biofertilizer) di Lahan Sawah


Metan (CH4) merupakan salah satu gas rumah kaca utama yang dapat menyerap radiasi infra-merah sehingga berkontribusi terhadap pe0manasan global. Methanotrof merupakan bakteri yang hidup menggunakan metan sebagai sumber karbon dan energi. BakteriMetanotrof memiliki peran utama dalam mereduksi metan yang lepas ke atmosfer dari lingkungan.
Pengukuran emisi CH4 di lahan sawah mengindikasikan bahwa metan yang diproduksi pada bagian anaerob sebagian dioksidasi pada lapisan permukaan sedimen sawah (Conrad & Rothfus 1991). Bakteri pengoksidasi metan atau Methanotroph adalah organisme aerobik yang dapat tumbuh dan berkembang dengan metan sebagai satu-satunya sumber energi. Oleh karena itu, oksidasi metan dapat terjadi pada lingkungan mikro yang bersifat aerobik pada zona perakaran dan pada bagian yang bersifat toksik pada lapisan permukaan tanah. Proses oksidasi metan tersebut diinisiasi oleh enzim metan mono-oksigenase yang berperan dalam konversi metan menjadi metanol (Oremland dan Capone 1988).
Bakteri Metanotrof memiliki enzimsoluble methane monooxygenase (sMMO) yang diketahui mampu mengkatalisis transformasi berbagai polutan. Tiga isolat bakteri Methanotroph (BGM 1, BGM 9, dan SKM 14) berhasil ditumbuhkan dan dimurnikan. Enzim sMMO diuji dengan metode kolorimetrik. Kurva pertumbuhan bakteri dan aktivitas sMMO dalam mengoksidasi naftalen menjadi naftol. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa hanya isolat BGM 9 yang menunjukkan aktivitas tertinggi sMMO (16,3 μM/jam).
Informasi tentang aspek mikrobiologi komunitas bakteri baik jenis, aktivitas dan dominasi bakteri Metanotrofyang berperan penting dalam menurunkan emisi gas rumah kaca CH4 pada lahan sawah di Indonesia. BakteriMetanotrof dapat mendukung dan dimanfaatkan untuk mewujudkan lahan sawah yang ramah lingkungan. Aplikasi bakteri Metanotrof sebagai pengoksidasi metan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi emisi metan dari sawah. Oksidasi metan tertinggi dihasilkan oleh isolat BGM 1, BGM 2, BGM 3, BGM 9, dan SKM 14 (Hapsary 2008).
Pembangkit energi dari metana .Methanotrophs merupakan aerob obligat gram negatif yang memperoleh energi dari oksidasi metana menjadi karbon dioksida . Reaksi pertama untuk bakteri ini melibatkan enzim yang disebut metana monooxygenase ( MMO ) , yang mengubah metana menjadi metanol seperti yang ditunjukkan berikut:
CH4 +  O2 + XH2  CH3OH + H2O + X
Dimana X = hidrogen pembawa ( sitokrom pembawa elektron ) .
MMO adalah enzim yang mengandung tembaga kompleks yang dapat berupa membran - terikat atau bebas dalam sitoplasma . Reaksi kedua melibatkan dehidrogenase metanol yang mengubah metanol untuk formaldehida sebagai berikut
CH3OH  HCHO + 2e+ 2H+
Akhirnya reaksi yang terlibat dalam disimilasi karbon untuk pembangkit energi mencakup baik oksidasi melalui format menjadi karbon dioksida disebut monofosfat ribulosa ( RMP ) jalur . Banyak tipe I methanotrophs menggunakan monofosfat jalur ribulosa untuk pembangkit energi , tetapi beberapa di antaranya juga dapat menggunakan jalur serin . Beberapa spesies menggunakan jalur serin memiliki kina khas , pyrtolo - kuinon ( PQQ ) , sebagai akseptor hidrogen .
            Bakteri ini mengkombinasikan metan dan oksigen untuk membentuk formaldehid dan diakhiri  dengan pembentuakan senyawa organik. Proses oksidasi metan dimulai dengan transformasi metan menjadi metanol dengan adanya particulate methane monoxygenase (pMMO) yang terletak pada membran. Enzim ini mereduksi ikatan COO menjadi dioksigen. Satu atom oksigen tereduksi menjadi H2O dan yang lainya berikatan dengan metan menjadi metanol. Selanjutnya metanol diubah menjadi formaldehid dengan adanyasoluble methane monooxygenase (sMMO) yang terdapat pada sitoplasma dan formaldehid ditransformasikan menjadi biomassa melalui 2 siklus utama yaitu siklus RuMP dan serin.

Referensi :
Dunfield, P. F, V. N. Khmelenina, N. E. Suzina, Y. A. Trotsento, and S. N . Dedysh. 2003. Methylocella silvestris sp. nov., anovel methanotroph isolated from an acidic forest cambisol. DOI 10.1099/ iks. 0.02481-0. Juottonen, H. 2008. Archaea, bacteria, and methane production along environmental gradients in dens and bogs.Academic Dissertation in General Microbiology. Universiti of Helsinki.
Prescott, Lansing M, dkk. 2005.Microbiology sixth edition. New york : The McGraw-Hill Companies Inc.
Setyanto, P. 2008. Mitigasi gas metan pada lahan sawah. Balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/buku/…/tanah sawah10.pdf. diakses pada tanggal 29 Desember 2013 pukul 22.00 WIB






3 komentar:

  1. untuk penulisan artikel ini mungkin yg perlu ditambahkan adalah mengenai penemu dar bakteri Metanotrof dan sedikit ditambahkan gambar ya nis ;). Ternyata bakteri ini si kecil penyelamat bumi ya. Bakteri metanotrof dapat dimanfaatkan untuk mengurangi jumlah emisi gas metan ke atmosfer. Bakteri ini membutuhkan metan sebagai sumber karbon dan energinya, dan menguranginya menjadi unsur lain yang tidak berbahaya. Selain mengurangi metan, bakteri ini juga dapat memfiksasi gas nitrogen menjadi amonium yang dibutuhkan oleh tanaman. Ketika bakteri metanotrof digunakan pada lahan sawah intensif, selain membantu mengurangi emisi gas metan ke udara, juga dapat meningkatkan produktivitas padi.(http://www.bic.web.id/login/inovasi-indonesia-unggulan/487-si-kecil-penyelamat-bumi)
    Balas
  2. penulisan artikel ini jelas tetapi alangkah baik nya dilengkapi gambar agar lebih mudah pemahaman nya , dan kalau bisa peranan lainn dr bakteri nya dicntumkan.
    sedikit tambahan methanotroph adalah organisme aerobik yang dapat tumbuh dan berkembang dengan metan sebagai satu-satunya sumber energi. Oleh karena itu, oksidasi metan dapat terjadi pada lingkungan mikro yang bersifat aerobik pada zona perakaran dan pada
    bagian yang bersifat toksik pada lapisan permukaan tanah. selain itu bakteri metanotrof yang berperan penting dalam menurunkan emisi gas rumah kaca CH4 pada lahan sawah di Indonesia
    masih sangat jarang.bakteri metanotrof penting dilakukan, sehingga hasil dan informasinya
    dapat mendukung dan dimanfaatkan untuk mewujudkan lahan sawah yang ramah
    lingkungan. (epository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/12431/G09ddw.pdf?sequence=2)
    Balas
  3. pembahsannya menarik. setuju dengan ilen,mungkin akan lebih baik jika ditambahkan gambar bakteri tersebut. mungkin bisa dijelaskan lagi 2 siklus utama yaitu siklus RuMP dan serin pada paragraf akhir.
    good job nisa :)

    (Ta'diyah B)
    Balas


Jumat, 27 Desember 2013

Laporan pati dan serat

PATI DAN SERAT PADA UMBI-UMBIAN


I. Prinsip
Mengamati hasil isolasi pati dan serat pada umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar, talas, kentang, bengkuang).

II. Alat dan bahan
Alat yang digunakan yaitu: Parutan untuk menghaluskan bahan, baskom kecil sebagai wadah dari bahan, pengaduk untuk mengaduk bahan agar homogenydan gelas kaca sebagai wadah pengujian serat dan pati
  Bahan yang digunakan adalah Manihot utilissima (Ubi kayu)Ipomea batatas (Ubi jalar),Colocasia esculenta (Talas)Solanum tuberosum (Kentang), Pachyrhizus erosus (Bengkuwang)

III. Cara kerja
Dikupas kulit luar bahan dan diparut dengan digunakan pemarut. Dimasukkan hasil parutan kedalam gelas kaca, dicampur dengan air dengan perbandingan 1 : 1. Hasil campuran dihomogenkan dengan cara diaduk hingga rata. Setelah homogen, campuran disaring sebanyak 2 kali. Hasil penyaringan dimasukkan ke dalam gelas kaca lain yang telah disediakan dan diberi label kemudian di diamkan selama beberapa menit sampai terbentuk endapan. Diamati dan dicatat hasil yang diperoleh kemudian tentukan pati dan seratnya.

IV. Hasil dan pembahasan
      4.1 Hasil pengamatan
Dari praktikum yang dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 1.  Hasil pengamatan pati dan serat pada umbi-umbian.
No
Perlakuan
Warna pati
Warna serat
Kadar pati
Kadar air
1
Bengkuang
Putih cerah
Putih
(**)
(****)
2
 Kentang
Orange keputih-putihan
Orange
(*)
(***)
3
 Ubi Jalar
Pati berwarna cokelat keputihan

Serat berwarna cokelat
(***)
(*)
4
Ubi Kayu
Berwarna putih susu

Berwarna kuning cream
(****)
(**)
5
Talas
 Pati berwarna putih susu


Serat berwarna putih susu
(****)
(*)
Ket: (*)
(*)  : Sangat sedikit
(**)  : Sedikit
(***) : Banyak
(****) : Sangat banyak
4.1.1 Gambar hasil pengamatan pati dan serat pada umbi-umbian.
            
(a)                            (b)
      
(c)   (d)
    
                        (e)
Gambar 1. Serat tidak larut. (a) Talas, (b) Kentang, (c) Ubi jalar, (d) Ubi kayu, (e) Bengkuang


    
                 (a)                                        (b)                                    (c)





  
                 (d)                                  (e)
Gambar 2. Waktu ke 1. (a) Talas, (b) Kentang, (c) Ubi jalar, (d) Ubi kayu, (e) Bengkuang 

  
(a)                                  (b)                               (c) 
   
    (d)           (e)
Gambar 3. Waktu ke 2. (a) Talas, (b) Kentang, (c) Ubi jalar, (d) Ubi kayu, (e) Bengkuang

  
(a)                                    (b)   (c)
  
                  (d)                                  (e)
Gambar 4. Waktu ke 3. (a) Talas, (b) Kentang, (c) Ubi jalar, (d) Ubi kayu, (e) Bengkuang
                                                                                                        






















4.2 Pembahasan
Pada pratikum ini, dilakukan isolasi serat dan pati pada umbi-umbian, terdapat perbedaan kadar serat dan pati antara beberapa bahan yang telah diuji. Pada kentang terdapat kadar pati lebih sedikit dibandingkan yang lainnyakadar air lebih banyak, terjadi Browning pada kentang karena reaksi oksidasi oleh  senyawa fenolSerat berawarna orange, pati berwarna orange keputih-putihan. Pati mengendap di dasar gelas dan serat halus di bagian atasPada talas, serat berwarna putih susu, pati lebih banyak dibanding yang lain, pati berwarna putih susuLebih banyak mengandung amilopektin sehingga kental (Gelatinisasi)Pada ubi jalar, air berwarna cokelat dan jelas terpisah, pati berwarna cokelat keputihan dan berada pada bagian atas gelasPati lebih banyak dibandingkan pati kentangSerat berwarna cokelatPada ubi kayu, jumlah pati lebih banyak dibandingkan kentang dan ubi jalarPati berada didasar gelas berwarna putih susuJumlah serat lebih sedikit dibandingkan ubi jalar dan kentang dan berwarna kuning creamPada bengkuang, dapat diamati pada tabel dan gambar bahwasanya pati berwarna putih cerah dan serat berwarna putih. Kadar pati pada bengkuang lebih banyak daripada kadar pati kentang serta memiliki kadar air yang lebih banyak dibandingkan dengan umbi-umbi yang lain.
Semua bahan yang digunakan ternyata memiliki serat dan pati. Pati paling banyak terdapat pada talas karena banyak mengandung amilopektin, sedangkan yang paling sedikit adalah pada gerusan kentang. Pati semua bahan yang diujikan mengendap di dasar gelas.
Pati bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa dalam jangka panjang. Pati digunakan sebagai bahan untuk memekatkan makanan cair seperti sup. Dalam industri, pati dipakai sebagai komponen perekat, campuran kertas dan tekstil, dan pada industri kosmetik. Pati terbagi dua yaitu pati terlarut dan pati yang mengendap. Pati yang terlarut larut bersama kadar air, masing-masing terdapat di bagian atas (permukaan atas) dari larutan bersama dengan serat halus. Persamaan antara pati dan serat adalah sama-sama termasuk karbohidrat. Pati dapat berfungsi sebagai sumber energi, mencegah penggunaan protein menjadi energi karena protein lebih bagus untuk menyusun membran sel, organel-organel, detoksifikasi zat racun, mengandung ribosa yang merupakan penyusun DNA (Fessenden, 1997).
Pati dan serat memiliki beberapa perbedaan diantaranya: pati memiliki tekstur yang halus sedangkan serat teksturnya kasar. Pati mengandung amilosa (ikatan lurus) dan amilopektin (ikatan bercabang) sedangkan serat mengandung selulosa yang memberikan sifat keras, hemiselulosa, dan pektin. Perbedaan lainnya terlihat dari fungsi, pati fungsinya sebagai sumber energi, mencegah penggunaan protein, detoksifikasi zat racun, penyusun DNA dan organel sel, sedangkan serat berfungsi sebagai pelancar pencernaan, menyerap lemak, menambah kadar feses, dan mengurangi kadar kolesterol (Goutara, 1985).
Berdasarkan literatur dapat diketahui bahwa serat adalah suatu jenis bahan berupa potongan-potongan komponen yang membentuk jaringan memanjang yang utuhContohnya yang paling banyak ditemui yaitu pada serat kain. Serat merupakan material yang sangat penting dalam ilmu Biologi baik hewan maupun tumbuhan sebagai pengikat dalam tubuhSerat berguna bagi manusia dalam banyak hal seperti untuk membuat tali, kain, atau kertas. Serat dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu serat alami dan serat sintetis (serat buatan manusia). Serat sintetis dapat diproduksi secara murah dalam jumlah yang besar. Namun demikian, serat alami memiliki berbagai kelebihan khususnya dalam hal kenyamanan (Fessenden, 1997).
Para ahli membagi serat menjadi dua kelompok, yaitu serat larut (soluble dietary fiber)  dan serat tidak larut air (insoluble dietary fiber). Serat larut air adalah serat  makanan yang dapat larut dalam air hangat dan dapat diendapkan. Serat makanan tidak larut dapat meningkatkan  konsistensis feses dan laju makanan (Goutara, 1985)
Serat terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan kitin yang merupakan penyusun dinding sel sedangkan pati dapat menghasilkan energi dengan melakukan hidrolisis selulosa (polisakarida) menjadi disakarida atau monosakarida. Serat berfungsi untuk melancarkan pencernaan, menambah jumlah feses, menyerap lemak yang berlebihan dalam tubuh dan mengurangi kadar kolesterol di dalam tubuh. Cara serat mengurangi kadar lemak di dalam tubuh adalah dengan cara berikatan antara serat dengan empedu (bilirubin), kemudian menyerap lemak. Saat berikatan dengan serat, maka kadar bilirubin berkurang di dalam empedu sehingga posisinya digantikan oleh serat (Jacobs dan Delcour, 1998).
Amilosa merupakan bagian dari rantai  lurus yang dapat memutar dan membentuk daerah sulur ganda. Pada permukaan luar amilosa yang bersulur tunggal terdapat hidrogen yang berikatan dengan atom O2 dan O-6. Rantai lurus amilosa yang membentuk sulur ganda kristal tersebut tahan terhadap amilase. Ikatan hidrogen-inter dan intra-sulur mengakibatkan terbentuknya struktur hidrofobik dengan kelarutan yang rendah. Oleh karena itu, sulur tunggal amilosa mirip dengan siklodekstrin yang bersifat hidrofobik pada permukaan dalamnya (Chaplin, 2002).
Talas merupakan umbi berbentuk silinder atau lonjong sampai agak bulat. Kulit talas berwarna kemerahan, kasar dan terdapat bekas pertumbuhan akar dan warna dagingnya putih keruh. Kandungan kimia dalam talas dipengaruhi oleh varietas, iklim, kesuburan tanah dan umur panen. Umbi talas segar terdiri dari air dan karbohidrat (Dewi, 1980)
Ubi kayu, ubi jalar, talas dan kentang memiliki kadar pati yang berbeda. Kadar pati dari bahan yang dipratikumkan sangat berbeda. Kadar pati talas adalah 18,2% (pati yang dapat dicerna), kadar amilosa 23,12% dan kadar hidrat 28,2%. Ubi jalar memiliki kadar pati 20% dan amilosa 15-25%. Ubi kayu memiliki kadar pati 29%, namun ada juga yang menyebutkan kadar pati pada ubi kayu 25-30% dan air 60%. Sedangkan kadar pati pada kentang adalah 18%, air 80% dan amilosa berupa amilopektin. Karbohidrat merupakan kandungan utama dari ubi jalar, selain itu ubi jalar juga mengandung vitamin, mineral, antioksidan dan serat (Santosa et al, 1997).
Ubi jalar atau ketela rambat atau sweet potato (Ipomoea batatas L.) adalah sejenis tanaman budidaya. Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan kadar gizi (karbohidrat) yang tinggiUmbi akar singkong banyak mengandung glukosa dan dapat dimakan mentah. Rasanya sedikit manis, ada pula yang pahit tergantung pada kandungan racun glukosida yang dapat membentuk asam sianida. Umbi yang rasanya manis menghasilkan paling sedikit 20 mg HCN per kilogram umbi akar yang masih segar, dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang rasanya pahit. Pada jenis singkong yang manis, proses pemasakan sangat diperlukan untuk menurunkan kadar racunnya. Dari umbi ini dapat pula dibuat tepung tapioka (Purwati, 2006).


V. Kesimpulan
     Berdasarkan pratikum yang dilakukan mengenai pati dan serat pada berbagai bahan makanan maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 
1. Kadar pati pada ubi talas paling tinggi dari semua jenis bahan makanan, kemudian ubi kayu, ubi jalar, bengkuang dan yang paling sedikit yaitu kadar pati pada kentang.
2. Perbedaan pati dan serat dapat dilihat dari teksturnya, dimana pati teksturnya lebih halus sedangkan serat teksturnya kasar.
3. Pati terpisah jelas dengan serat pada semua jenis bahan makanan dimana pati selalu mengendap di bawah dan serat di bagian atas.
4. Kadar pati pada talas lebih banyak dari yang lainnya dapat dilihat pada lamanya waktu dari isolasi talas untuk mencapai kebeningan dari talas yang dilarutkan. Selain itu, talas juga memiliki kadar kekentalan yang lebih tinggi dibandingkan dari bahan yang lainnya.
      
DAFTAR PUSTAKA

Chaplin. 2002. Physical Chemistry 4th ed. Mc.Graw Hill Book Company: New York. 
Dewi Sabita Slamet dan Ignatus Tarwotjo. 1980. Majalah Gizi dan Makanan Jilid 4  hal 26. Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI
Fessenden dan Fessenden. 1982. Kimia Organik II,edisi ketiga. Jakarta: Erlangga
Goutara dan S,Wisandi1985. Dasar Pengolahan Gula I dan II. Bogor: Fateta IPB
Jacobs, Delacour. 1998. Organic Chemistry. Mc. Graw Hill Book Company: New York.
Martono. 2005. Karbohidrat Zat yang Sangat Penting. Sastra Hudaya: Jakarta
Purwati,A. 2006. Singkong Berpotensi Jadi Bahan Baku Energi. http://www.trubus.online.com/manfaatsingkong/purwati.html/2 November 2012
Sudarmadji. 1996. Penuntun Praktikum Biokimia Untuk Mahasiswa Analis. Andi: Yogyakarta.
Soeharsono. 1978. Biokimia : Protein, Enzim, Asam Nukleat. ITB : Bandung.
Whistler, R.L. 1984. History and Expectation of Starch Use. Tapioca, Arrowroot, and Sago Starches: Production).Starch. Chemistry and Technology. UK: Academic Press