Selasa, 18 Desember 2018

Nazar Cinta

VIII. NAZAR CINTAKU UNTUK CIPTAAN-MU
.
.
.
Lama keduanya saling diam. Hingga akhirnya, Aisha memberanikan diri untuk berbicara. Meski lidahnya terbata, matanya sedikit berkaca memandang pria yang ada di hadapannya. Baru ini ia mau membuka cadar yang selama ini dipakainya di depan pria yang baru ia kenal.
.
.
A: Menunggu itu fitrah bukan?
.
B: Ya... mungkin bagimu, tapi aku tak ingin kau menungguku
.
A: Kenapa? Bukankah kau yg telah menghadirkan indah di hidupku dan aku telah pantaskan diriku untuk menunggumu...
.
B: Indah bukanlah ciptaanku, Allahlah yg menghadirkannya utkmu lewat aku. Aku tidak pantas kau tunggu. Karena Allah memerintahkanku utk segera menjemputmu.
.
A: Apakah kau berjanji akan menjemputku?
.
B: Tidak
.
A: Kenapa? Jgn mengingkari perintah Tuhanmu.
.
B: Itu bukan janjiku...
.
A: Kau tidak mencintaiku?
.
B: Laknat Allah akan menimpaku jika tak mensyukuri dan mencintai CiptaanNYa...
.
A: Lalu...
.
B: Itu bukan janjiku... Tapi itu NAZARKU.
.

Seketika waktu berlalu... Pria muda itu menutup matanya yg sendu.. Butiran lembut air mata cinta membening di pipi kiri dan kanannya... Matanya masih terpejam... Infusnyapun tak berjalan. Kini ia telah tenang dipelukan sang tuhan.
.
. "Kebahagiaan ini masih tertunda. Ternyata kitalah yang sama-sama menunggu. Jika kita tidak bertemu, aku yang kan merayu tuhanku untuk menghadirkanmu di syurga firdhaus"
Iyya kana'budu... waiyyakanasta'in... Allah Pelindungmu...
.
.
.
#VIII Nazar Cinta (Pesona Danau Cinta)
#pengagumcahaya

Kamis, 22 November 2018

Senjaku Diam-Puisi-puisi Pengagum Cahaya

bambangbns.blogspot.com
(SENJAKU DIAM)
*Bambang Nurwansa

Senja... Rasa itu masih sama
Jangan diam, tersenyumlah perlahan
Walau engkau kan hilang saat malam menjelang

Senja... Kejora kini kusayang
Cepatlah pulang... Jangan diam
Malam akan segera datang
Senja takkan pulang...
Ia ingin menjadi bintang yang kau sayang

Senja... Jangan diam... Cinta itu takkan hilang
Ia adalah cahaya disaat malam menjelang

Senja tak ingin diam... Senja bilang:
“Malam ini kejora tak datang...
Karena Allah menghadirkan cinta dalam bentuk hujan,
Bukan bintang”

Seindah Cahaya-Puisi-puisi Pengagum Cahaya

(SEINDAH CAHAYA)
*Bambang Nurwansa

Cahaya itu isyarat cinta
Hadir di senja pertama
Saat suara cinta memanggil mesra
Cahaya itu berharap senja
Menciptakan bahagia disaat adzan menyapa

Senyum itu ibadah rasa
Hadirkan ikhlas di dalam jiwa
Nikmat itu kekuatan hati
Yang harus disyukuri
Dalam setiap denyut nadi


Dan Hujan-Puisi-puisi Pengagum Cahaya

(DAN HUJAN)
*Bambang Nurwansa

Air terlepas dari pelukan sang awan
Bebas menghempas laut harapan
Hujan mengindahkan sebuah tujuan
Tuhan menghadirkan semangat kebahagiaan

Dan hujan...
Lihatlah bagaimana ia menciptakan kebahagiaan
Menjadikan bunga yang indah kembali bermekaran
Saat hujan..

Selasa, 20 November 2018

Temukanlah Indah Samudera Cinta Yang Esa

Terkadang hidup tidak seperti yang kita inginkan, namun jadilah seperti apa yang diinginkan oleh hidup...


Anak: Ayah, ajarkan aku jadi nelayan yang baik, bisa?

Ayah: Kenapa engkau bertanya seperti itu nak? Apakah selama ini kita bukan nelayan yang baik!!

Anak: Sepertinya belum yah, karena nelayan yang baik seharusnya juga mendapatkan ikan dengan kualitas dan kuantitas yang baik. Nah sekarang kita belum mendapatkan yang seperti itu kan? Bahkan banyakpun ikan yang kita dapat namun belum banyak pembeli yang melirik ikan kita.

Ayah: Nak, semua butuh proses. Ikan di laut tidak bisa didapatkan begitu saja. Tidak mudah nak, tidak. Engkau pergi mengayuh perahumu dan berlayar menuju lautan luas. Jangankan ikan yang kau jelang. Pulangmu dengan senyuman saja sudah ayah nantikan. Jadi, bukan banyaknya ikan atau kualitas dari jenis apa yang kau dapat. Tapi lebih-lebih adalah niatmu untuk mencari ikan di lautan itu untuk apa serta caramu mendapatkan ikan itu bagaimana. Ingat nak, semua itu ada baik dan buruknya. Jika kau menganggap itu baik, maka baiklah dia. Jika kau menganggap itu buruk, maka buruklah dia.

Anak: ...... (Garuk-garuk kepala yang tidak gatal, cengengesan).

Ayah: Nak, ayah tahu setiap engkau melaut, ada saja ikan yang engkau lepaskan karena tidak tega melihat ika itu kan. Dan ada saja air mata yang jatuh dari kedua mata mungilmu ketika melihat ada ikan yang mati terjerat di jaring. Nak, itu sudah meyakinkan ayah bahwa engkau adalah nelayan yang baik. (Tersenyum, seraya mengelus kepala anaknya)

Anak: (dengan mata yang berbinar) ... Jadi, ayah tahu? Semua yang aku lakukan ketika di lautan??

Ayah: iya, aku kan AYAHMU...


"Jadilah engkau untuk sesabar-sabarnya, sekuat-kuatnya. Jadikanlah cinta kepada Allah jatuh pada titik ketaatan, melewati batas rasa dan suka. Mendahului datangnya cahaya. Jangan sampai karena seorang nelayan yg tidak baik sikapnya menjadikanmu benci pada semua nelayan. Sehingga menimbulkan kegundahan dan ketidak semangatan menjalani kehidupan. Ingat, nelayan yang baik akan mendapatkan ikan-ikan dengan jenis dan kualitas yang baik pula. Begitupun sebaliknya. Jalanmu masih panjang, impianmu masih terbentang. Sekaranglah giliranmu, lihatlah dunia dan kejar mimpi-mimpi besarmu."

Rabu, 30 November 2016

Ternyata Suka


TERNYATA SUKA

Mungkin makna bukan prioritas bagi setiap rasa... 
Terkadang ia hanya keinginan belaka atau bisa juga sekedar ketidaktahuan... 
Seperti mata, yang malamnya terjaga terlalu lama sehingga siang tak mampu menahan sayupnya...

Mungkin rasa tidak terpatri pada manisnya...
Tapi terhanyut oleh cinta yang hadir karena kisahnya...
Mungkin rasa awalnya tak mengerti apa-apa...
Tapi karena pahitnya yang tak pernah menyergap dalam jiwa
dan pada suatu masa ia hadir membalut makna... 

Bukan beda yang menyatukan kita dalam suka... 
Tapi syukur nikmatnya yang terhaturkan dalam dzikir kita adalah peran utama... 
Yang menjadikan kita sebagai HAMBA SEJATINYA...

Annallaha mawlakum...
Subahanallah...
walhamdulillah...  


Sabtu, 08 Oktober 2016

TAUBAT (Riyadhus Shalihin - IMAM NAWAWI)






Para alim-ulama berkata:

"Mengerjakan taubat itu hukumnya wajib dari segala macam dosa. Jikalau kemaksiatan itu terjadi antara seseorang hamba dan antara Allah Ta'ala saja, yakni tidak ada hubungannya dengan hak seseorang manusia yang lain, maka untuk bertaubat itu harus menetapi tiga macam syarat, yaitu: Pertama hendaklah menghentikan sama sekali-seketika itu juga dari kemaksiatan yang dilakukan, kedua ialah supaya merasa menyesal karena telah melakukan kemaksiatan tadi dan ketiga supaya berniat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selama-lamanya. Jikalau salah satu dari tiga syarat tersebut di atas itu ada yang ketinggalan maka tidak sahlah taubatnya.

Apabila kemaksiatan itu ada hubungannya dengan sesama manusia, maka syarat-syaratnya itu ada empat macam, yaitu tiga syarat yang tersebut di atas dan keempatnya ialah supaya melepaskan tanggungan itu dari hak kawannya. Maka jikalau tanggungan itu berupa harta atau yang semisal dengan itu, maka wajiblah mengembalikannya kepada yang berhak tadi, jikalau berupa dakwaan zina atau yang semisal dengan itu, maka hendaklah mencabut dakwaan tadi dari orang yang didakwakan atau meminta saja pengampunan daripada kawannya dan jikalau merupakan pengumpatan, maka hendaklah meminta penghalalan yakni pemaafan dari umpatannya itu kepada orang yang diumpat olehnya.

Seseorang itu wajiblah bertaubat dari segala macam dosa, tetapi jikalau seseorang itu bertaubat dari sebagian dosanya, maka taubatnya itupun sah dari dosa yang dimaksudkan itu, demikian pendapat para alim-ulama yang termasuk golongan ahlulhaq, namun saja dosa-dosa yang lain-lainnya masih tetap ada dan tertinggal - yakni belum lagi ditaubati.

Sudah jelaslah dalil-dalil yang tercantum dalam Kitabullah, Sunnah Rasulullah s.a.w.
serta ijma' seluruh ummat perihal wajibnya mengerjakan taubat itu.

Allah Ta'ala berfirman:
"Dan bertaubatlah engkau semua kepada Allah, hai sekalian orang Mu'min, supaya engkau
semua memperoleh kebahagiaan." (an-Nur: 31)

Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Mohon ampunlah kepada Tuhanmu semua dan bertaubatlah kepadaNya." (Hud: 3)

Dan lagi firmanNya:
"Hai sekalian orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang nashuha -
yakni yang sebenar-benarnya." (at-Tahrim: 8)

Keterangan:
Taubat nashuha itu wajib dilakukan dengan memenuhi tiga macam syarat
sebagaimana di bawah ini, yaitu:
(a) Semua hal-hal yang mengakibatkan diterapi siksa, kerana berupa perbuatan
yang dosa jika dikerjakan, wajib ditinggalkan secara sekaligus dan tidak diulangi lagi.
(b) Bertekad bulat dan teguh untuk memurnikan serta membersihkan diri sendiri
dari semua perkara dosa tadi tanpa bimbang dan ragu-ragu.
(c) Segala perbuatannya jangan dicampuri apa-apa yang mungkin dapat
mengotori atau sebab-sebab yang menjurus ke arah dapat merusakkan taubatnya itu.

#Riyadhus Shalihin-Imam Nawawi